Kata Boni Hargens: Tim Lukas Enembe Sebar Hoax Untuk Sudutkan BIN Dan Jokowi


KabarViral - Tim Lukas Enembe diduga sengaja menyebarkan hoax demi menaikkan posisi tawar Gubernur Papua itu yang tengah ditimpa kasus dugaan korupsi.

Khususnya, terkait dokumen berisi 16 poin yang disodorkan Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan (BG) ke Lukas dalam pertemuan dua sosok tersebut yang juga melibatkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Informasi tentang dokumen 16 poin yang disodorkan ke Lukas adalah hoax. Saya duga dibangun oleh kelompok yang ingin menaikkan posisi tawar Lukas terkait dugaan korupsi yang menimpa dirinya," ujar Pengamat Politik Boni Hargens melalui keterangan persnya, Kamis (21/9).

Boni mengaku, dirinya melihat foto para petinggi dalam pertemuan itu beredar di salah satu WhatsApp (WA) Group yang berisi para tim sukses Lukas Enembe untuk pilkada 2018. Bahkan, termasuk Lukas Enembe, juga berada di WA Group tersebut.

Padahal, kata Boni, pertemuan Kepala BIN, Kapolri, dan Gubernur Papua ini murni dalam rangka membahas konflik di Papua. Khususnya, terkait keamanan Pilkada seperti di Puncak Jaya, Tolikara, dan Intan Jaya yang sudah jatuh korban, rumah dan bangunan perkantoran.

"Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dari pihak-pihak yang mngetahui pertemuan tersebut, justru dalam pertemuan itu, Lukas menyampaikan curahan hatinya terkait kasus korupsi yang menimpa dirinya," ungkap Boni.

Lebih lanjut, Boni menilai aneh, sikap Partai Demokrat dalam menanggapi pertemuan yang melibatkan Lukas Enembe yang juga menjabat Ketua DPD Demokrat Papua. Partai Demokrat, kata Boni sedang bermain politik untuk menyudutkan BIN dan pemerintahan Jokowi dengan mengusulkan investigasi tentang isi pertemuan Kepala BIN, Kapolri dan Gubernur Papua ini.

Menurut dia, hal ini terlihat dari sumber informasi yang tidak jelas dan terkesan bahwa Kader Demokrat seperti Benny K. Harman berbicara atas dasar ilusi dan hoax.

"Berita bohong yang berkembang terkait dokumen 16 poin itu jelas palsu. Karena bagaimana mungkin deputi 2 BIN membuat laporan intelijen ke Panglima TNI? Secara prosedural dan legal, hal itu mustahil terjadi," papar Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu.

Oleh karenanya, Boni mendorong semua pihak agar fokus terhadap kasus korupsi Lukas Enembe. Berdasarkan catatan LPI, kata Boni, ada 6 kasus korupsi yang diduga melibatkan Lukas Enembe.

Antara lain, kasus dana beasiswa LN untuk mahasiswa Papua, kasus kredit macet Bank Papua, kasus dana satgas Papeda yang diketuai Jimmi Biniluk, adik pendeta Lipiyus Biniluk, kasus dana LPKP yang dikelola Pendeta Lipiyus Bimiluk, kasus dana Kongres Nasional KNPI 2015 dan kasus dana pembangunan Jalan Sentani Depapre. Dalam kasus terakhir, bahkan melibatkan Kepala Dinas PUPR Papua Michael Kambuaya dan pengusaha Frans Manibuy yang kasusnya juga tengah ditangani KPK.

"Kita berharap KPK serius menangani dugaan korupsi yang melibatkan Lukas Enembe. Kita tidak mau hoax yang menyudutkan institusi negara seperti BIN dijadikan alat tawar bagi koruptor untuk menutup kasus penilapan mereka," demikian Boni.

-kabarviral/rmol

Postingan populer dari blog ini

171 Cara mendapatkan backlink dari Web .edu dan .gov serta .com (bagian 3)

404 Cara mendapatkan backlink dari Web .edu dan .gov serta .com (bagian 2)

400 Cara mendapatkan backlink dari Web .edu dan .gov (bagian 1)